RASA KARSA

    



    Kita dipertemukan dengan wajah yang saling tak mengenal. Awal pertemuan yang begitu singkat, seakan akan aku dan kamu seperti pembeli dan kasir yang hanya saling menatap dan mengiyakan belanjaannya. Di pertemuan itu, aku mencoba untuk mengenal bagaimana dirimu untuk lebih jelas lagi. Sejujurnya, saat awal pertemuan. Hal yang saya rasakan begitu berbeda ketika bertemu antara senang, gugup, dan kagum. Rasa yang begitu cepat tumbuh inipun merambah menjadi rasa yang aneh. Kagum padamu begitu cepat mengalir di pikiran ini, wajahmu yang indah seperti langit yang sedang lembayung lembayungnya pun itu tak kalah dengan mu.
    
    Senyuman mu mengingatkanku pada ice cream berbagai rasa yang dicampur menjadi satu dan membuat hati begitu riang gembira. pertemuan kita tak hanya sampai disitu saja dan tak jumpa dengan mu membuatku rindu. Kata orang lain “kutitipkan rindu ini pada senja yang sedang indah-indah nya”. Tetapi aku berbeda dengan orang lain, karena rindu ini tak bisa dititipkan seenaknya begitu saja.
 Tak bisa dititipkan seperti manusia menitipkan dosanya kepada golongan ketika membicarakan orang. Rindu ini harus disampaikan dengan cara apapun, dengan cara yang tak logis pun rindu ini harus tetap di antarkan kepada nya.

Mengenal
       “apa kamu yakin untuk mengenalku dengan segala kekuranganku?” ucapmu
    Dengan cepat aku yakin yakin saja dengan dirinya, karena dirinya telah memberikan rasa yang tak pernah kurasakan. Seperti ketika makan martabak manis pun itu berbeda ketika mengenalnya. Janganpun itu, martabak manis yang banyak digemari orang pun kalah dengan senyum manis dirinya ketika bahagia. Enak saja ketika melihat senyumanmu yang indah itu. Dengan yakin, aku menghubungi mu melalui via pesan yang tak bisa bersuara. Tapi tenang saja kalaupun pesan itu tak bisa bersuara, aku dapat bersuara dengan mengatakan “aku kagum sekali dengan senyumanmu itu”.
    
    Ketika pesan tak bersuara bergulir begitu lama, kita saling menyuarakan dan bertatap muka lewat digital. Yang awalnya aku kagum, lama kelamaan menjadi cinta kemudian sayang. Wahai hati yang begitu cepat berkembang, mengapa engkau tiba tiba suka padanya? Hati tak menggubris pertanyaan itu tetapi malah membuat rasa cinta begitu besarnya seakan akan tak ingin lepas darimu. Kamu mengiyakan begitu saja perkenalan kita yang begitu cepat itu. Kamu membuat warna baru yang muncul. Warna tersebut seperti pelangi yang ada di bumantara. 

    Sebenarnya mengenalmu itu sangatlah rumit, seperti mengerjakan matematika sin cos tan. Dengan mengenalmu, saya mengerti bagaimana cara melihat senyuman, melihat tingkah mu yang unik, menertawakan kebodohanmu. Keunikanmu itu sangatlah unik. Tahap mengenal kita pun begitu menyenangkan bagiku. Dengan mengenalmu, seketika dunia ku berubah. Berubah yang awalnya begitu sendu, namun saat ini sangat menyenangnkan seperti lagu anak anak yang harus selalu senang. 
    
    Pada tahap mengenalmu pun, banyak hal yang ku pelajari. Tentang bagaimana cara menghadapi sifat mu yang berubah-ubah, bagaimana membuat orang tersenyum riang. Seperti halnya aku sangat senang dengan senyum mu. Indah, tak tau bagaimana lagi harus mengungkapkan nya. Bingung, harus dengan cara apa mendeskripsikan nya. Kamu juga memberi ku banyak hal mengenai kehidupan yang sangat berarti. 

    Sampai detik ini pun aku masih mengingat nya. Senyum, tawa, tingkah lucu dan polos mu. Pada tahap mengenal, banyak rasa senang yang timbul. Rasa senang yang harus selalu hadir. Meskipun hal itu sangat tak mungkin juga jika harus selalu hadir. Pertemuan kita bukan tanpa sebab namun keinginan ku mendekatkan diri padamu. Duduk bersanding maupun berhadapan sambil menatap matamu, kita berdialog seakan akan membahas bagaimana hal yang tidak ada harus ada. Berdialog dengan mu, aku lalu sadar bahwa ada orang secantik dirimu dibumi ini.

    Meskipun, berkali- kali bertemu rasanya hal yang dirasakan sama saja. Gugup, salting. Rasanya hal itu wajar saja jika berhadapan denganmu. Apalagi, saat kamu tersenyum dan tertawa. 

    Pertemuan memang sangat se menyenangkan itu

    dan 

    Perpisahan memang sangat se menyakitkan itu

    Pertemuan dan perpisahan selalu berdampingan. Meskipun rasa takut akan perpisahan itu ada. Hal itu akan selau hadir. Kita tak bisa menghindar. Menghindarpun, ya tak ada bedanya. Itulah ketakutan terbesarku. Perpisahan.

Salam hangat, Ryn.

Komentar

Postingan Populer